
Pernahkah kamu belajar semalaman sebelum ujian, mendapatkan nilai yang bagus, tetapi beberapa hari kemudian justru lupa dengan sebagian besar materi yang dipelajari? Atau mungkin kamu mampu menghafal rumus dan pola soal, tetapi merasa kesulitan ketika harus menjelaskan mengapa rumus tersebut digunakan atau bagaimana menerapkannya pada persoalan yang berbeda?
Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan cara seseorang melakukan proses belajar. Dalam kajian pendidikan, terdapat perbedaan antara pendekatan belajar yang berorientasi pada pemahaman mendalam dan pendekatan yang lebih berfokus pada mengingat atau mereproduksi informasi. Salah satu pendekatan tersebut dikenal sebagai surface approach to learning atau pendekatan belajar permukaan (surface learning) (Marton & Säljö, 1976; Dolmans dkk., 2016).
Surface learning tidak berarti seseorang sama sekali tidak memahami materi. Istilah ini lebih tepat digunakan untuk menggambarkan kecenderungan belajar yang berfokus pada pemenuhan tuntutan tugas atau ujian, misalnya dengan menghafal informasi tanpa berusaha memahami makna yang lebih mendalam. Dengan pendekatan seperti ini, mahasiswa dapat berhasil menyelesaikan suatu tugas atau memperoleh hasil akademik yang baik, tetapi belum tentu menunjukkan pemahaman yang mendalam terhadap materi yang dipelajari (Dolmans dkk., 2016).
Apa Itu Surface Learning?
Konsep mengenai perbedaan pendekatan belajar secara mendalam dan permukaan dapat ditelusuri melalui penelitian Ference Marton dan Roger Säljö pada 1976. Dalam penelitian tersebut, mahasiswa diminta membaca teks dan kemudian menjawab pertanyaan mengenai isi bacaan serta bagaimana mereka melakukan proses membaca. Penelitian tersebut menunjukkan adanya perbedaan dalam cara mahasiswa memproses informasi. Perbedaan tersebut kemudian dijelaskan melalui istilah surface-level processing dan deep-level processing (Marton & Säljö, 1976).
Pada pemrosesan yang bersifat surface, mahasiswa cenderung berfokus pada informasi yang dianggap diperlukan untuk memenuhi tuntutan tugas. Sementara itu, pemrosesan yang lebih mendalam berorientasi pada usaha memahami makna dari materi yang dipelajari (Marton & Säljö, 1976).
Dalam perkembangan kajian berikutnya, surface approach dipahami sebagai pendekatan yang terutama melibatkan hafalan (rote learning) dan belajar untuk melewati ujian. Sebaliknya, deep approach berkaitan dengan ketertarikan untuk memahami apa yang sedang dipelajari. Pendekatan tersebut tidak hanya dipandang sebagai karakter pribadi mahasiswa, tetapi juga berkaitan dengan lingkungan belajar yang mereka hadapi (Dolmans dkk., 2016).
Dengan demikian, surface learning dapat dipahami sebagai kecenderungan belajar yang lebih menekankan reproduksi informasi dibandingkan usaha memahami makna dan hubungan antarkonsep.
Mengapa Surface Learning Bisa Terjadi?
Munculnya surface learning tidak selalu disebabkan oleh kurangnya kemampuan mahasiswa. Lingkungan pembelajaran, tuntutan tugas, beban belajar, dan sistem penilaian juga dapat memengaruhi pendekatan belajar yang digunakan (Dolmans dkk., 2016).
Dolmans dkk. (2016) menjelaskan bahwa beban belajar yang tinggi dan penilaian yang dipersepsikan tidak menghargai pembelajaran mendalam dapat mendorong pendekatan surface. Sebaliknya, lingkungan pembelajaran yang mendukung aktivitas aktif dan motivasi intrinsik dapat membantu mendorong pendekatan yang lebih mendalam. Dalam kehidupan perkuliahan, misalnya, mahasiswa dapat lebih berorientasi pada menghafal materi ketika menghadapi banyak tugas dan ujian dalam waktu yang berdekatan. Ketika tujuan utama belajar adalah memperoleh nilai atau menyelesaikan tuntutan akademik secepat mungkin, memahami hubungan antarkonsep dapat menjadi kurang diperhatikan.
Karena itu, surface learning tidak seharusnya dipandang semata-mata sebagai “kesalahan mahasiswa”. Cara pembelajaran dirancang, bentuk tugas, beban akademik, dan sistem penilaian juga dapat memengaruhi pendekatan belajar yang digunakan.
Apa Dampaknya Jika Belajar Hanya untuk Menghafal?
Masalah utama surface learning bukan terletak pada aktivitas menghafal itu sendiri. Hafalan tetap dapat diperlukan untuk menguasai informasi dasar. Permasalahan muncul ketika hafalan menjadi strategi utama dan mahasiswa tidak memiliki kesempatan yang cukup untuk memahami, menghubungkan, dan menerapkan pengetahuan.
Dalam kondisi tersebut, mahasiswa dapat mampu menyebutkan definisi atau rumus, tetapi mengalami kesulitan ketika harus menjelaskan hubungan antara satu konsep dengan konsep lainnya. Perbedaan antara sekadar mengingat informasi dan memahami makna materi merupakan salah satu aspek yang membedakan pemrosesan secara surface dan deep (Marton & Säljö, 1976).
Mahasiswa juga dapat menjadi terbiasa mencari pola tertentu untuk memperoleh jawaban. Akibatnya, ketika menghadapi persoalan baru yang membutuhkan penentuan konsep atau strategi secara mandiri, mereka dapat mengalami kesulitan.
Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa setiap aktivitas menghafal pasti merupakan surface learning. Hafalan dapat menjadi bagian dari pembelajaran yang mendalam apabila informasi yang diingat kemudian digunakan untuk memahami dan menerapkan konsep.
Lalu, Apa Itu Deep Learning dalam Pendidikan?
Istilah deep learning dalam konteks pendidikan perlu dibedakan dari deep learning dalam kecerdasan buatan.
Dalam pendidikan, deep learning merujuk pada paradigma atau pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam, berpikir kritis, kolaborasi, serta keterhubungan aspek kognitif, emosional, dan sosial dalam proses belajar (Prihantoro dkk., 2025).
Dalam konteks pendidikan Indonesia, Prihantoro dkk. (2025) menjelaskan tiga pilar utama deep learning, yaitu mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning. Ketiganya diarahkan untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih humanis dan transformatif.
Mindful learning berkaitan dengan kesadaran dan refleksi dalam proses belajar. Meaningful learning menekankan keterkaitan pengetahuan yang dipelajari dengan pengetahuan sebelumnya dan konteks yang relevan. Sementara itu, joyful learning menekankan terciptanya pengalaman belajar yang positif dan mendorong keterlibatan (Prihantoro dkk., 2025; Andayanie dkk., 2025).
Andayanie dkk. (2025) juga membahas deep learning sebagai pendekatan pedagogis yang diarahkan pada pembelajaran yang lebih holistik, reflektif, dan sesuai dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21. Kajian tersebut menghubungkan deep learning dengan prinsip mindful, meaningful, dan joyful learning.
Dengan demikian, deep learning dalam pendidikan bukan berarti belajar lebih lama atau mempelajari materi sebanyak-banyaknya. Fokusnya adalah memahami apa yang dipelajari dan mampu menggunakan pemahaman tersebut secara bermakna.
Bagaimana Deep Learning Menjadi Alternatif?
Jika surface learning lebih berorientasi pada reproduksi informasi, pendekatan deep learning berusaha mengarahkan mahasiswa untuk memahami makna, menghubungkan konsep, menerapkan pengetahuan, dan merefleksikan proses belajar. Perbedaannya dapat digambarkan secara sederhana:
Surface Learning | Deep Learning |
Berfokus pada mengingat informasi | Berfokus pada memahami makna |
Berorientasi pada pemenuhan tuntutan tugas | Berorientasi pada pemahaman |
Cenderung menghafal pola | Menghubungkan berbagai konsep |
Fokus pada jawaban yang harus diberikan | Berusaha memahami alasan di balik jawaban |
Mengikuti contoh yang tersedia | Menerapkan konsep pada persoalan yang berbeda |
Pengetahuan dipelajari secara terpisah | Pengetahuan dihubungkan dengan pengetahuan sebelumnya |
Salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat mendukung pembelajaran mendalam adalah problem-based learning (PBL). Dalam PBL, mahasiswa belajar melalui permasalahan yang relevan dan perlu mendiskusikan, menganalisis, serta mengintegrasikan pengetahuan untuk memahami atau menyelesaikan masalah (Dolmans dkk., 2016).
Dolmans dkk. (2016) melakukan review terhadap 21 penelitian mengenai hubungan PBL dengan pendekatan deep dan surface learning. Hasilnya menunjukkan bahwa PBL memiliki efek positif kecil terhadap pendekatan deep learning, dengan 11 dari 21 penelitian menunjukkan peningkatan pendekatan mendalam. Namun, hasil penelitian tidak semuanya sama: empat penelitian menunjukkan penurunan dan enam penelitian tidak menunjukkan perubahan. Karena itu, PBL dapat mendukung deep learning, tetapi tidak otomatis menjaminnya dalam setiap konteks.
Andayanie dkk. (2025) juga mengidentifikasi project-based learning, game-based learning, pembelajaran yang dipersonalisasi, dan keterlibatan komunitas sebagai strategi yang dapat mendukung keterlibatan, kemampuan berpikir kritis, dan motivasi intrinsik dalam kerangka deep learning.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Mendorong pembelajaran mendalam tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Perubahan dapat dimulai dari cara mahasiswa belajar dan cara pendidik merancang aktivitas pembelajaran.
1. Jangan hanya bertanya “apa”, tetapi juga “mengapa” dan “bagaimana”
Pertanyaan seperti “Apa definisinya?” dapat dilanjutkan dengan pertanyaan: Mengapa konsep tersebut penting? Bagaimana konsep tersebut bekerja? Apa hubungannya dengan konsep lain? Bagaimana konsep tersebut digunakan dalam kehidupan nyata?
Pertanyaan seperti ini membantu mengarahkan perhatian mahasiswa dari sekadar mengingat menuju memahami.
2. Hubungkan materi baru dengan pengetahuan sebelumnya
Meaningful learning menekankan pentingnya keterkaitan antara pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki serta konteks yang relevan. Andayanie dkk. (2025) menjelaskan bahwa pembelajaran bermakna dapat dibangun melalui hubungan antara materi, pengetahuan sebelumnya, konteks kehidupan nyata, dan tujuan peserta didik.
Misalnya, ketika mempelajari statistika, mahasiswa tidak hanya menghafal rumus, tetapi juga memahami kapan rumus tersebut digunakan, apa arti hasil perhitungannya, dan bagaimana hasil tersebut dapat digunakan untuk menjawab suatu persoalan.
3. Gunakan masalah atau kasus nyata
Pembelajaran dapat dimulai dari suatu masalah yang membutuhkan penerapan konsep. Dengan demikian, mahasiswa memiliki alasan untuk mencari, memahami, dan menggunakan informasi yang dipelajari.
PBL dan project-based learning dapat digunakan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa menghubungkan pembelajaran dengan masalah dan konteks yang relevan (Andayanie dkk., 2025; Dolmans dkk., 2016).
4. Berikan kesempatan untuk menjelaskan kembali
Meminta mahasiswa menjelaskan suatu konsep menggunakan bahasanya sendiri dapat membantu menunjukkan apakah konsep tersebut benar-benar dipahami. Kemampuan menjelaskan juga dapat membantu mahasiswa mengorganisasi dan menghubungkan pengetahuan yang telah dimiliki.
5. Utamakan kedalaman pemahaman
Memahami konsep secara mendalam dapat lebih bermakna daripada sekadar menyelesaikan sebanyak mungkin materi tanpa memahami hubungan antarkonsep. Karena itu, proses pembelajaran perlu memberikan ruang untuk menganalisis, berdiskusi, menerapkan, dan melakukan refleksi.
6. Evaluasi tidak hanya melalui hafalan
Jika pembelajaran ingin mendorong pemahaman, bentuk evaluasi juga perlu memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menjelaskan alasan, menganalisis kasus, memecahkan masalah, dan menerapkan konsep. Andayanie dkk. (2025) mengidentifikasi ketidaksesuaian sistem penilaian konvensional sebagai salah satu tantangan penerapan deep learning.
Tantangan Penerapannya
Menerapkan pembelajaran mendalam tentu tidak selalu mudah. Dalam konteks pendidikan Indonesia, Prihantoro dkk. (2025) menjelaskan bahwa penerapan deep learning masih menghadapi tantangan, terutama berkaitan dengan kompetensi pendidik dan ketersediaan sumber daya.
Andayanie dkk. (2025) juga mengidentifikasi kesiapan pendidik, keterbatasan infrastruktur teknologi, dan ketidaksesuaian sistem penilaian konvensional sebagai tantangan dalam penerapan pendekatan deep learning.
Artinya, perubahan menuju deep learning tidak cukup dilakukan hanya dengan meminta mahasiswa “belajar lebih dalam”. Pendidik membutuhkan dukungan untuk merancang aktivitas pembelajaran yang bermakna, mahasiswa membutuhkan kesempatan untuk aktif, dan sistem penilaian perlu memberikan ruang untuk mengukur pemahaman serta kemampuan menerapkan pengetahuan.
Jadi, Apakah Nilai Bagus Berarti Sudah Paham?
Belum tentu. Nilai merupakan salah satu indikator hasil belajar, tetapi nilai tidak selalu menggambarkan seluruh kualitas pemahaman seseorang. Mahasiswa dapat memperoleh hasil akademik yang baik melalui berbagai strategi belajar. Namun, kemampuan memahami konsep secara mendalam tidak hanya terlihat dari kemampuan memberikan jawaban, tetapi juga dari kemampuan menjelaskan alasan, menghubungkan konsep, dan menerapkannya pada situasi yang berbeda. Karena itu, pertanyaan penting dalam pendidikan bukan hanya “Berapa nilai yang kamu dapat?”, tetapi juga “Seberapa baik kamu memahami apa yang telah kamu pelajari?”
Pada akhirnya, tujuan belajar seharusnya tidak berhenti pada kemampuan menjawab soal. Pengetahuan yang dipelajari diharapkan dapat dipahami, digunakan, dikembangkan, dan diterapkan ketika seseorang menghadapi persoalan yang nyata.
Nilai yang tinggi tentu merupakan hal yang baik. Namun, pemahaman yang mendalam membuat hasil belajar memiliki makna yang lebih panjang daripada sekadar angka di atas kertas.
Daftar Pustaka
Andayanie, L. M., Adhantoro, M. S., Purnomo, E., & Kurniaji, G. T. (2025). Implementation of deep learning in education: Towards mindful, meaningful, and joyful learning experiences. Journal of Deep Learning, 1(1), 47–56. https://doi.org/10.23917/jdl.v1i1.11157
Dolmans, D. H. J. M., Loyens, S. M. M., Marcq, H., & Gijbels, D. (2016). Deep and surface learning in problem-based learning: A review of the literature. Advances in Health Sciences Education, 21(5), 1087–1112. https://doi.org/10.1007/s10459-015-9645-6
Marton, F., & Säljö, R. (1976). On qualitative differences in learning: I—Outcome and process. British Journal of Educational Psychology, 46(1), 4–11. https://doi.org/10.1111/j.2044-8279.1976.tb02980.x
Prihantoro, P., Prayitno, H. J., Indri, I., & Kusumaningtyas, D. A. (2025). Deep learning: Policies, concepts, and implementation in senior high schools in Indonesia. Journal of Deep Learning, 1(1), 11–24. https://doi.org/10.23917/jdl.v1i1.10964
