
Konflik antara negara Iran dan Israel kian memanas
Konflik antara Iran dan Israel resmi dimulai pada tanggal 13 Juni 2025. Konflik ini dipicu oleh serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Israel ke berbagai lokasi strategis di Iran, termasuk fasilitas nuklir di Natanz dan Isfahan yang dinamai “Operation Rising Lion”. Sebagai bentuk perlawanan, Iran membalas dengan meluncurkan serangan rudal dan drone yang diarahkan ke ke situs-situs militer Israel dengan nama sandi “True Promise III Operation”, di mana salah satu serangan Iran berhasil menghantam markas pertahanan atau Pentagon-nya Israel. Serangan Israel terhadap Iran bermula dari pernyataan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang menyebut bahwa Iran melanggar perjanjian non-proliferasi dan buntunya negosiasi nuklir Amerika Serikat-Iran.
Israel mengklaim serangan udara tersebut sebagai “preemptive strike” untuk menghancurkan kemampuan program nuklir Iran serta menghentikan Iran mengembangkan senjata nuklir. Iran diketahui telah memperkaya uranium hingga tingkat kemurnian 60 persen, sementara untuk membuat senjata nuklir dibutuhkan uranium dengan tingkat kemurnian 90 persen. Proses pengayaan yang berlangsung cepat inilah yang menjadikan dalih Israel meluncurkan serangan karena khawatir Iran membuat senjata nuklir. Konflik ini merupakan puncak dari “perang bayangan”, mengingat Israel selama ini telah melakukan operasi intelijen, termasuk serangan terbatas terhadap Iran atau target Iran di kawasan Timur Tengah, seperti di wilayah Suriah dan Lebanon. Ketegangan antara kedua negara semakin memanas pasca Hamas yang diklaim rezim Zionis dengan dukungan Iran menyerang Israel pada 7 Oktober 2023 sehingga mempengaruhi rantai aksi dan reaksi di kawasan Timur Tengah.
Dikutip dari The Guardian, tercatat sudah ada lebih dari 400 rudal yang diluncurkan oleh Iran yang menargetkan wilayah Israel. Bahkan, terdapat kisaran 200 rudal yang dikirimkan dalam jumlah rentetan. Hal ini dilakukan oleh Iran menyusul serangan yang dikirimkan oleh Israel. serangan yang telah dilakukan oleh Israel terhadap Iran telah menghilangkan nyawa sekitar lebih dari 600 orang dan melukai lebih dari 1.300 orang. Sebaliknya, rudal yang telah diluncurkan oleh Iran di Israel juga telah menewaskan sekitar 25 orang dan ratusan orang lainnya terluka.
Dampak Ekonomi Global Akibat Koflik antara negara Iran dan Israel
Ketegangan antara dua kekuatan utama di Timur Tengah bukan hanya memengaruhi kestabilan militer kawasan, tetapi juga mengancam fondasi ekonomi global yang sudah rapuh. Para analis memperingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan dapat menambah ketidakpastian pasar, mendorong inflasi global, hingga menciptakan krisis pasokan energi.
Salah satu dampak paling langsung dari konflik ini adalah melonjaknya harga minyak mentah dunia. Dikutip dari Aljazeera, pada 13 Juni 2025 pukul 16.00 waktu New York (20.00 GMT), harga minyak Brent yang menjadi standar acuan internasional naik 5 persen dibandingkan penutupan pasar sebelumnya. Bahkan, kontrak berjangka minyak sempat melonjak lebih dari 13 persen, mencapai level tertinggi sejak Januari. Harga minyak mentah jenis WTI juga naik lebih dari 6 persen dan diperdagangkan di atas US$ 73 per barel. Lonjakan ini mencerminkan kekhawatiran pasar akan terganggunya pasokan minyak dari wilayah Teluk Persia. (Tempo.co, 2025)

Berdasarkan data yang dikutip dari tradingeconomics, harga Minyak Mentah naik menjadi 74,23 USD/Bbl pada 23 Juni 2025, naik 0,25% dari hari sebelumnya. Selama sebulan terakhir, harga Minyak Mentah telah naik 21,90%.
Ketegangan geopolitik juga segera tercermin pada kinerja pasar modal dunia, terutama di Amerika Serikat. Dikutip dari The Economic Times, pada Jumat 13 Juni 2025, pasar saham AS dibuka dengan penurunan tajam dan tetap berada di zona merah sepanjang sesi perdagangan. Sementara itu, saham sektor energi dan pertahanan justru menguat, didorong oleh kenaikan harga minyak dan sentimen konflik. Perusahaan seperti ExxonMobil, Chevron, BP, Lockheed Martin, dan Northrop Grumman mengalami penguatan. Sebaliknya, saham sektor perjalanan dan rekreasi seperti Delta, United Airlines, dan Carnival melemah hingga 5 persen karena kekhawatiran terhadap biaya bahan bakar dan penurunan permintaan. Investor mulai mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman. Harga emas naik sekitar 1,5 persen, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun bergerak fluktuatif di kisaran 4,36-4,41 persen, dan Indeks Volatilitas VIX melonjak lebih dari 13 persen ke level 20,4.
Lonjakan harga energi dan ketidakpastian ekonomi global memicu kekhawatiran akan potensi stagflasi, yaitu kondisi di mana inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat. Analis memperingatkan bahwa jika harga minyak menembus US$100 per barel, beban biaya hidup akan meningkat, daya beli melemah, dan pemulihan ekonomi global pasca pandemi serta konflik Ukraina-Rusia bisa terhambat.
Dampak Ekonomi Indonesia Akibat Koflik antara negara Iran dan Israel
Sebagai negara net importir minyak mentah dan terkoneksi dengan ekonomi dunia, Indonesia berada dalam posisi yang rentan terhadap berbagai dampak negatif ini. Wakil Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (Aspebindo) Fathul Nugroho mengatakan konflik di Timur Tengah selalu menjadi faktor penentu utama harga minyak global. “Jika harga terus naik dan bertahan di atas asumsi APBN, defisit anggaran kita bisa membengkak. Ini alarm bagi kita untuk serius mengejar swasembada energi,” tegas Fathul Nugroho.
M Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak dan gangguan di alur perdagangan utama seperti Selat Hormuz bisa memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat global, termasuk Indonesia. Ia menegaskan bahwa dampak domino dari situasi ini adalah penurunan daya beli dan investasi di antara negara-negara konsumen energi, sehingga memperbesar risiko terjadinya stagflasi. Dampaknya pada Indonesia terasa dari segi fiskal dan inflasi karena tingginya ketergantungan terhadap impor energi.
Menurut Rizal, dampak lainnya adalah fluktuasi harga komoditas strategis seperti minyak dan emas. “Konflik geopolitik semacam ini selalu memicu volatilitas tinggi pada harga komoditas strategis. Harga minyak dan gas meroket, sementara emas melonjak karena berfungsi sebagai aset lindung nilai,” tegas Rizal. Rizal juga mengingatkan kemungkinan tekanan terhadap nilai tukar rupiah akibat arus modal keluar.Dalam situasi ini, Rizal menyarankan agar Bank Indonesia (BI) perlu memperkuat kebijakan dengan intervensi valas yang terukur, sinyal suku bunga yang terpercaya, dan lerjasama yang kuat dengan pihak fiskal untuk menjaga ekspektasi pasar.
Mahasiswa Harus Apa?
Memanasnya konflik antara Iran dan Israel bukan hanya menjadi perhatian bagi para pemimpin global, tetapi juga seharusnya menyadarkan generasi muda, khususnya mahasiswa, tentang pentingnya memahami isu-isu dunia. Meskipun secara geografis Indonesia terletak jauh dari daerah Timur Tengah, dampak dari perseteruan ini tetap dirasakan dengan jelas. Kenaikan harga minyak dunia, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, risiko inflasi, dan terganggunya stabilitas ekonomi global adalah konsekuensi yang tak bisa diabaikan oleh negara manapun, termasuk Indonesia.
Sebagai individu terdidik dan calon pemimpin masa depan, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk tidak bersikap acuh tak acuh terhadap dinamika internasional. Justru, dalam keadaan dunia yang semakin rumit dan penuh kecemasan ini, mahasiswa diharapkan menjadi agen yang sadar, kritis, dan aktif dalam mendorong terciptanya perdamaian dan keadilan global.
Langkah awal yang harus diambil mahasiswa adalah meningkatkan literasi global. Literasi ini bukan sekadar memahami peristiwa konflik superficially, tetapi menggali lebih dalam akar sejarah, dinamika politik, serta dampak konflik tersebut terhadap ekonomi, lingkungan, dan masyarakat sipil. Literasi seperti ini hanya dapat dicapai jika mahasiswa rajin mencari informasi dari beragam sumber yang kredibel, seperti laporan PBB, analisis kebijakan luar negeri, jurnal akademik, dan media global. Kemampuan untuk memilah informasi yang akurat dan bebas dari bias sangat penting di tengah maraknya disinformasi dan propaganda yang mengikut sertai konflik internasional.
Namun, hanya memiliki kesadaran tidaklah cukup. Mahasiswa juga perlu terlibat dalam gerakan sosial yang menolak kekerasan dan mendukung solusi damai. Ini bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk, mulai dari menulis opini di media kampus atau umum, mengorganisir forum diskusi lintas disiplin di universitas, hingga mengekspresikan sikap lewat media sosial dengan narasi yang membangun dan edukatif.Media sosial, sebagai ruang publik digital yang berpengaruh besar, harus digunakan mahasiswa untuk menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas global, serta menolak narasi kebencian dan sektarianisme. Mahasiswa juga bisa membentuk atau bergabung dalam komunitas-komunitas yang fokus pada perdamaian, hak asasi manusia (HAM), dan diplomasi rakyat. Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga membangun jaringan solidaritas lintas negara yang sangat penting untuk masa depan dunia yang lebih harmonis.
Menanggapi kondisi dunia yang semakin kompleks, Dr. Asep Setiawan, M.A., menyampaikan bahwa Indonesia tidak cukup hanya menyatakan keprihatinan terhadap konflik global. Dalam wawancara yang dikutip dari Universitas Muhammadiyah Jakarta, ia menegaskan perlunya langkah konkret Indonesia di forum Gerakan Non-Blok untuk mendorong penyelesaian damai melalui dialog dan diplomasi. Ia juga menekankan pentingnya diplomasi Indonesia di kelompok BRICS agar dapat ikut menjaga keseimbangan dan perdamaian global. Pernyataan ini menggarisbawahi peran mahasiswa sebagai pendukung diplomasi damai dan suara moral masyarakat. Mahasiswa bisa menjadi bagian dari gerakan yang menyerukan perdamaian dan keadilan global, baik melalui kampanye solidaritas, penulisan opini, hingga partisipasi dalam kegiatan kemanusiaan.
Dunia sedang tidak baik-baik saja, dan mahasiswa tidak dapat lagi hanya bersikap sebagai penonton. Mahasiswa harus menjadi agen perubahan. Ketika kekerasan menjadi narasi utama dalam penyelesaian konflik, mahasiswa perlu muncul sebagai suara pendamaian. Ketika informasi yang misleading mendominasi ruang publik, mahasiswa harus hadir sebagai penjaga kebenaran. Dan ketika ketidakadilan menjadi hal yang biasa, mahasiswa harus tampil sebagai suara hati bangsa. Dengan pengetahuan, kesadaran, dan kepedulian yang dimiliki, mahasiswa Indonesia mampu berperan dalam perjuangan global menuju dunia yang lebih adil, damai, dan manusiawi. Bukan dengan kekerasan, tetapi melalui pikiran, penulisan, dan tindakan nyata.
Referensi
Kontan.co.id. (2025, 23 Juni). Konflik Iran dan Israel picu lonjakan harga minyak dan ancaman inflasi global. Kontan Nasional. Diakses dari https://nasional.kontan.co.id/news/konflik-iran-dan-israel-picu-lonjakan-harga-minyak-dan-ancaman-inflasi-global.
Aria, N. (2025, 18 Juni). Dampak Perang Israel Iran ke Ekonomi dan Kecemasan Sri Mulyani. Tirto.id. Diakses dari https://tirto.id/dampak-perang-israel-iran-ke-ekonomi-dan-kecemasan-sri-mulyani-hc9o
Tempo.co. (2025, Juni). Dampak ekonomi global akibat Israel serang Iran. Tempo.co. Diakses dari https://www.tempo.co/internasional/dampak-ekonomi-global-akibat-israel-serang-iran-1735697
Universitas Muhammadiyah Jakarta. (2025, 26 Juni). Konflik IranIsrael mengguncang Timur Tengah, Indonesia jangan diam. Diakses dari https://umj.ac.id/opini-1/konflik-iran-israel-mengguncang-timur-tengah-indonesia-jangan-diam/
Milagsita, A. (2025, 22 Juni). Bagaimana awal mula Iran serang Israel? Ini sejarah konflik mereka. DetikJateng. Diakses dari https://www.detik.com/jateng/berita/d-7976290/bagaimana-awal-mula-iran-serang-israel-ini-sejarah-konflik-mereka
SindoNews International. (2025, Juni). Mengapa Iran dan Israel perang? Ini ulasan lengkapnya. SindoNews International. Diakses dari https://international.sindonews.com/read/1580259/43/mengapa-iran-dan-israel-perang-ini-ulasan-lengkapnya-1749945976
Trading Economics. (2025). Crude oil prices: 1983–2025 data | 2026–2027 forecast. TradingEconomics.com. Diakses 23 Juni 2025, dari https://tradingeconomics.com/commodity/crude-oil
