
Pernahkah kalian merasa cemas setiap kali membaca berita tentang banjir bandang, kebakaran hutan, atau gelombang panas yang semakin ekstrem? Merasa khawatir dengan masa depan bumi, tapi sekaligus merasa tidak berdaya karena tidak tahu harus berbuat apa? Kalau iya, kalian tidak sendirian, dan perasaan itu bahkan sudah memiliki nama ilmiahnya sendiri: eco-anxiety.
Di tengah krisis iklim yang semakin nyata dan arus informasi lingkungan yang mengalir deras setiap harinya, eco-anxiety kini menjadi salah satu fenomena psikologis yang paling banyak diteliti dan dibicarakan oleh para ilmuwan, terutama dalam kaitannya dengan generasi muda. Ini bukan sekadar kekhawatiran biasa. Ini adalah respons emosional yang kompleks terhadap ancaman nyata yang dirasakan oleh jutaan orang di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Apa Itu Eco-Anxiety?
Eco-anxiety adalah kecemasan yang muncul akibat ketidakpastian masa depan lingkungan, yaitu sebuah respons emosional berupa kekhawatiran kronis terhadap perubahan iklim, kerusakan ekosistem, dan ancaman bencana alam yang semakin intens (Nurfitria, 2026). American Psychological Association (APA) pertama kali memopulerkan istilah ini pada 2017 untuk menggambarkan kondisi di mana perubahan iklim menimbulkan dampak psikologis yang nyata, bahkan pada orang yang belum pernah mengalami bencana secara langsung (APA, 2017).
Eco-anxiety mencakup respons emosional yang kompleks, mulai dari kekhawatiran berlebihan, perasaan tidak berdaya, kesedihan, hingga ketakutan terhadap masa depan lingkungan (Nurfitria, 2026). Ia berbeda dari kecemasan biasa karena pemicunya bersifat kolektif dan global, bukan ancaman terhadap diri sendiri saja, melainkan ancaman terhadap keberlangsungan planet yang kita tinggali bersama.
Secara klinis, para peneliti membedakan eco-anxiety dari gangguan kecemasan yang lebih spesifik. Ia lebih tepat dipahami sebagai respons psikologis adaptif terhadap ancaman ekologis yang nyata, bukan sebagai gangguan mental tersendiri, meskipun ketika tidak dikelola dengan baik, ia dapat berkembang menjadi distress psikologis yang lebih serius (Orrù & Mannarini, 2024).
Seberapa Umum Eco-Anxiety Terjadi?
Angkanya lebih besar dari yang mungkin kalian bayangkan. Survei global terhadap anak dan remaja di berbagai negara oleh Hickman et al. (2021) menemukan bahwa 59% responden usia 16–25 tahun menyatakan sangat khawatir terhadap perubahan iklim, dan yang lebih mengejutkan, 45% melaporkan bahwa kecemasan tersebut sudah memengaruhi kehidupan sehari-hari mereka (dalam Nurfitria, 2026).
Penelitian lintas generasi juga menemukan perbedaan yang signifikan: Generasi Z melaporkan skor eco-anxiety tertinggi dibandingkan generasi sebelumnya. Hampir setengah responden Generasi Z (48,4%) berada pada kategori eco-anxiety tinggi dan memiliki kemungkinan lebih dari empat kali lipat dibandingkan Baby Boomers untuk mengalami kecemasan terkait iklim (OR = 4,21) (Nurfitria, 2026).
Di Indonesia, gambarannya tidak kalah mengkhawatirkan. Penelitian terhadap remaja dan dewasa muda Indonesia menemukan korelasi positif yang signifikan antara eco-anxiety dan kecemasan dasar (r = 0,697), dan semakin rendah pendapatan keluarga, semakin tinggi pula tingkat eco-anxiety yang dilaporkan (Syafitri et al., 2025). Penelitian lain di Indonesia menemukan bahwa paparan konten media terkait perubahan iklim secara langsung berkontribusi terhadap pembentukan kecemasan lingkungan pada Generasi Z, yang dimediasi oleh pola komunikasi interpersonal dan intensitas paparan informasi (Ramadhani, 2025, dalam Nurfitria, 2026).
Mengapa Generasi Z Paling Rentan?
Ada beberapa alasan mengapa Generasi Z menunjukkan tingkat eco-anxiety yang paling tinggi dibandingkan generasi manapun sebelumnya.
Pertama, mereka tumbuh di era digital dengan paparan informasi iklim yang sangat intens. Berita tentang bencana alam, kebakaran hutan, dan perubahan iklim hadir setiap hari di linimasa media sosial mereka, seringkali dalam format visual yang dramatis dan emosional. Gen Z yang secara rutin mengonsumsi konten tentang dampak perubahan iklim tanpa terlibat dalam tindakan pro-lingkungan menunjukkan tingkat eco-anxiety yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lain (Hickman et al., 2021, dalam Nurfitria, 2026).
Kedua, mereka adalah generasi yang akan menanggung konsekuensi terbesar dari krisis iklim. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang mungkin tidak akan menyaksikan dampak paling buruk perubahan iklim, Generasi Z tahu bahwa merekalah yang akan hidup di bumi yang semakin tidak stabil, dan kesadaran itu sendiri sudah cukup menjadi beban psikologis yang berat (Nurfitria, 2026).
Ketiga, Indonesia sebagai negara kepulauan dengan risiko bencana tinggi memperparah kondisi ini. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat dominasi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan cuaca ekstrem dalam beberapa tahun terakhir yang berkorelasi dengan anomali iklim, sementara BMKG menyatakan bahwa tren kenaikan suhu dan perubahan iklim global berdampak langsung pada meningkatnya intensitas bencana di Indonesia antara 2010–2025 (dalam Nurfitria, 2026). Anak muda Indonesia tidak hanya membaca tentang krisis iklim, sebagian dari mereka sudah merasakannya langsung.
Bagaimana Eco-Anxiety Memengaruhi Kesehatan Mental?
Penelitian menunjukkan bahwa eco-anxiety berkorelasi signifikan dengan berbagai bentuk distress psikologis, termasuk kecemasan umum, depresi, dan stres emosional (Mosca et al., 2025). Tinjauan sistematis terhadap berbagai studi global mengkonfirmasi bahwa eco-anxiety berhubungan dengan gejala psikologis yang nyata, termasuk gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, perasaan tidak berdaya, dan penurunan kualitas hidup secara keseluruhan (Nurfitria, 2026).
Yang membuat eco-anxiety berbeda dari kecemasan biasa adalah sifatnya yang sulit “diselesaikan”. Ketika seseorang cemas tentang ujian, ada hal konkret yang bisa dilakukan, yaitu belajar lebih keras. Tapi ketika seseorang cemas tentang krisis iklim global, skala masalahnya terasa jauh melampaui kemampuan individu untuk mengubahnya. Kondisi inilah yang oleh para peneliti disebut sebagai eco-paralysis, yaitu perasaan lumpuh dan tidak berdaya yang muncul ketika kecemasan iklim terlalu besar untuk ditangani secara personal (Orrù & Mannarini, 2024).
Namun ada sisi lain yang menarik: tidak semua eco-anxiety berdampak negatif. Penelitian menemukan bahwa ketika dikelola dengan baik dan didukung oleh lingkungan sosial yang tepat, eco-anxiety justru bisa menjadi pendorong tindakan pro-lingkungan dan aktivisme (Nurfitria, 2026). Generasi Z di Indonesia yang memiliki persepsi risiko lingkungan tinggi dan didukung oleh komunitas yang peduli terbukti lebih cenderung mengubah kecemasan mereka menjadi tindakan nyata seperti partisipasi dalam gerakan lingkungan dan perubahan gaya hidup (Tanjung et al., 2026).
Apa yang Bisa Membantu?
Memahami bahwa eco-anxiety adalah respons yang wajar terhadap ancaman yang nyata adalah langkah pertama yang paling penting. Ini bukan tanda bahwa kalian terlalu berlebihan atau terlalu sensitif. Ini tanda bahwa kalian peduli, dan kepedulian itu memiliki basis ilmiah yang kuat.
Beberapa hal yang terbukti membantu mengelola eco-anxiety secara adaptif:
1. Batasi konsumsi berita iklim secara bijak
Tetap terinformasi itu penting, tapi paparan berlebihan terhadap konten bencana tanpa jeda justru memperburuk kecemasan. Tetapkan waktu tertentu untuk mengonsumsi berita lingkungan, dan imbangi dengan konten yang menampilkan solusi dan kemajuan (Nurfitria, 2026).
2. Cari komunitas yang peduli
Berbagi kekhawatiran dengan orang lain yang memiliki kepedulian serupa terbukti mengurangi perasaan terisolasi dan tidak berdaya. Komunitas pro-lingkungan memberikan rasa tujuan bersama yang membantu mengelola kecemasan secara lebih adaptif (Tanjung et al., 2026).
3. Ambil tindakan kecil yang konkret
Penelitian menemukan bahwa terlibat dalam aksi pro-lingkungan, sekecil apa pun, secara konsisten berkorelasi dengan penurunan tingkat eco-anxiety karena memberikan rasa kendali dan makna (Mosca et al., 2025). Dari memilah sampah, mengurangi plastik, hingga berpartisipasi dalam kampanye lingkungan, semuanya berkontribusi.
4. Cari dukungan profesional jika diperlukan
Ketika eco-anxiety sudah mengganggu fungsi sehari-hari seperti sulit tidur, sulit berkonsentrasi, atau merasa putus asa secara terus-menerus, berbicara dengan konselor atau psikolog adalah langkah yang tepat dan tidak perlu ditunda (Orrù & Mannarini, 2024).
Penutup
Eco-anxiety bukan tanda kelemahan mental. Ia adalah sinyal bahwa seseorang cukup peduli untuk merasakan beban krisis yang sedang dihadapi seluruh umat manusia, dan khususnya generasi yang akan mewariskan bumi ini. Perasaan itu valid, dan riset ilmiah mendukung keabsahannya.
Tantangannya bukan untuk berhenti peduli, melainkan untuk menemukan cara merawat kepedulian itu tanpa membiarkannya berubah menjadi kelumpuhan. Karena pada akhirnya, dunia tidak membutuhkan generasi yang tidak peduli. Dunia membutuhkan generasi yang cukup peduli untuk bertindak, bahkan di tengah rasa takut.
Daftar Pustaka
American Psychological Association. (2017). Mental health and our changing climate: Impacts, implications, and guidance. APA. https://www.apa.org/news/press/releases/2017/03/mental-health-climate.pdf
Mosca, A., Luciani, D., Chiappini, S., Miuli, A., PsyClimate Research Group, Cianconi, P., Pettorruso, M., Janiri, L., & Martinotti, G. (2025). Eco-anxiety and mental health: Correlates of climate change distress. International Journal of Environmental Research and Public Health, 22(12), Article 1768. https://doi.org/10.3390/ijerph22121768
Nurfitria, S. (2026). Eco-anxiety pada Gen Z dan implikasinya pada kesehatan mental. Journal of Linguistics and Social Studies, 3(2), 23–36. https://doi.org/10.52620/jls.v3i1.351
Orrù, L., & Mannarini, S. (2024). Psychological impact of climate change emergency: An attempt to define eco-anxiety. Frontiers in Psychology, 15, Article 1375803. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2024.1375803
Syafitri, D., Pratiwi, A., & Handayani, M. (2025). Eco-anxiety in Indonesian adolescents and young adults and its influencing factors. Journal of Adolescence, 97(4), 2553733. https://doi.org/10.1080/02673843.2025.2553733
Tanjung, J., Armalia, S., & Amir, Z. (2026). From eco-anxiety to climate activism: The moderating role of collective efficacy among Generation Z in Indonesia. Open Access Indonesia Journal of Social Sciences, 9(3), 176–185. https://doi.org/10.37275/oaijss.v9i3.329
